Oleh Ustadz M. Alwan Dzulfaqqor, S.Ag.
Apa itu investasi abadi?
Ketika membicarakan sebuah investasi, kebanyakan orang menganggap investasi itu hanyalah tabungan atau bekal untuk di dunia saja, dan berupa uang atau materi. Kebanyakan kita tidak menyadari ada sebuah investasi yang bisa menjadikan kita berbahagia di dunia bahkan sampai di akhirat, apa itu?
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ ابن آدم الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثلاث ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 4310)
Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkabarkan ada investasi abadi yang pahalanya mengalir meski kita telah tiada di dunia ini. Apa saja?
Sedekah Jariyah
Sedekah jariyah adalah sebutan bagi sedekah yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan sedekah tersebut sudah meninggal dunia, dan apa yang disedekahkannya bisa bermanfaat. Sedekah tersebut terus menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya selama apa yang disedekahkannya masih bermanfaat. Diantara contoh sedekah jariyah adalah wakaf seperti membangun masjid, membangun sarana prasarana pendidikan, menggali sumur untuk airnya dimanfaatkan orang banyak, berbagai macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah.
Al-Khatib as-Syarbini, ulama syafiiyah (w. 977 H). Dalam Mughni al-Muhtaj, beliau mengatakan,
الصدقة الجارية محمولة عند العلماء على الوقف كما قاله الرافعي ، فإن غيره من الصدقات ليست جارية
“Sedekah jariyah dipahami sebagai wakaf menurut para ulama, sebagaimana keterangan ar-Rafi’i. Karena sedekah lainnya bukan sedekah jariyah.” (Mughni al-Muhtaj, 3/522).
Diantara semangat beramal para sahabat, mereka yang mampu, semuanya pernah berwakaf.
Sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,
لَـمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِـيِّ صَلّى اللهُ عليهِ وسَلّم ذُو مَقدِرَة إِلّا وَقَفَ
“Tidak ada seorang pun sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kemampuan, kecuali mereka wakaf.” (Ahkam al-Auqaf, Abu Bakr al-Khasshaf, no. 15 dan disebutkan dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/29).
Keutamaan Wakaf
Syaikh Abdullah Ali Bassam berkata: Wakaf adalah shadaqah yang paling mulia. Allah menganjurkannya dan menjanjikan pahala yang sangat besar bagi pewakaf, karena shadaqah berupa wakaf tetap terus mengalir menuju kepada kebaikan dan maslahat. Adapun keutamaannya, (meliputi):
- Berbuat baik kepada yang diberi wakaf, berbuat baik kepada orang yang membutuhkan bantuan. Misalnya kepada fakir miskin, anak yatim, janda, orang yang yang tak memiliki usaha dan perkerjaan, atau untuk orang yang berjihad fi sabilillah, untuk pengajar dan penuntut ilmu, pembantu atau untuk pelayanan kemaslahatan umum.
- Kebaikan yang besar bagi yang berwakaf, karena dia menyedekahkan harta yang tetap utuh barangnya, tetapi terus mengalir pahalanya, sekalipun sudah putus usahanya, karena dia telah keluar dari kehidupan dunia menuju kampung akhirat.
Ilmu yang Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat juga bisa menjadi investasi kekal abadi, oleh karena itu kita di wajibkan oleh Rasulullah untuk belajar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)
Dan setiap ilmu yang kita beri kepada orang lain, selama orang lain itu mengamalkan ilmu kita maka kita akan mendapatkan pahala yang mengalir meski kita sudah tidak ada lagi di dunia ini, termasuk juga ketika kita membuat buku atau tulisan untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).
Anak Sholeh yang Mendoakannya
Anak juga merupakan aset berharga dan investasi abadi untuk kita orang tua, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendidik anak kita agar menjadi anak yang sholeh dan juga sholehah agar bisa mendoakan kita ketika kita sudah tidak ada di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim, 66:6)
Mari kita berinvestasi abadi dengan cara cara yang telah disebutkan, semoga dengan demikian harta kita, dan keluarga kita menjadi berkah. Semoga bermanfaat Wallahu a’lam.




