Oleh Ustadz M. Alwan Dzulfaqqor, S.Ag.
Sering sekali kita mendengar kata amanah, dan bahkan kita selalu dituntut untuk itu, namun apa sebenarnya amanah itu?
PENGERTIAN AMANAH
Amanah adalah bisa diartikan kata lainnya dengan komitmen. Al Imam Ibnu Al Atsir Rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan jaminan keamanan.
Begitu juga Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika menafsirkan surat Al-Ahzab ayat 72, Al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, perintah-perintah agama, dan batasan-batasan hukum.
Asy Syaikh Al Mubarakfuri Rahimahullah berkata, “Amanah adalah segala sesuatu yang mewajibkan engkau untuk menunaikannya”.
Adapun menurut Asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman Hafizhahullah, amanah adalah kepercayaan orang berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa.
Sedangkan Asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali Hafizhahullah menjelaskan, amanah adalah sebuah perintah menyeluruh dan mencakup segala hal berkaitan dengan perkara-perkara, yang dengannya, seseorang terbebani untuk menunaikannya, atau ia dipercaya dengannya. Sehingga amanah ini mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti perintah-perintah-Nya yang wajib, juga meliputi hak-hak orang lain seperti barang-barang titipan (yang harus ditunaikan dan disampaikan kepada si pemiliknya).
Jadi, sudah semestinya seseorang yang dibebani amanah, ia menunaikannya dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikan kepada pemiliknya. Ia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang syar’i.
Asy Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh Hafizhahullah juga menjelaskan: “Para ulama telah berkata, hal-hal yang termasuk amanah sangatlah banyak. Kaidah dan dasar hukumnya adalah segala sesuatu yang seseorang terbebani dengannya, dan hak-hak yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memelihara dan menunaikannya, baik berkaitan dengan agama, jiwa manusia, akal, harta, dan kehormatan harga diri”.
DALIL AMANAH
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)
Al Hafizh Ibnu Katsir di dalam Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya ia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya.
Dalam sebuah hadits dari Al Hasan, dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan)
Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh seseorang yang dibebani dengannya. Baik (amanah itu) berupa hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan) shalat, zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya dan tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu orang dengan yang lainnya tanpa ada bukti atasnya.
Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkannya untuk menunaikannya. Barang siapa yang tidak menunaikannya, akan diambil darinya pada hari kiamat kelak.
SEMUA ENGGAN DAN HAKIKAT MANUSIA/SIFAT
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
KISAH KHALIFAH UMAR
Kita lihat bagaimana kisah kholifah Umar bin Khattab Rodiyallahu ‘anhu, yang di tunjuk sebagai kholifah yang kedua ketika Abu Bakar As-Shiddiq Rodiyallahu ‘anhu sedang sakit dan ingin menyelesaikan masa jabatannya, Umar bin Khattab Rodiyallahu ‘anhu menolak keras dan mendatangi Abu Bakar As-Shiddiq Rodiyallahu ‘anhu sembari berkata: “Kenapa engkau tidak memberitahuku wahai Abu Bakar, demi Allah saya tidak menginginkan ini sama sekali.” Kemudian Abu Bakar As-Shiddiq Rodiyallahu ‘anhu berkata:”Seandainya aku tau kau menginginkannya aku pun tidak akan memilihmu.”
Dari kisah diatas menunjukan beratnya mengemban amanah dan generasi terbaik pun yaitu para sahabat merasa enggan mengemban amanah.
Semoga bermanfaat, wallahu ‘alam




