Oleh Ustadz M. Alwan Dzulfaqqor, S.Ag.
Pengertian Isra’ Mi’raj
Isra` secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ bermakna perjalanan di malam hari. Adapun secara istilah, Isra` adalah perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Palestina), berdasarkan firman Allah :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha “ (Al Isra’:1)
Mi’raj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Adapun secara istilah, Mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam surat An Najm.
Dan pengertian dari pada Isra’ Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Makkah menuju Baitul Maqdis (Palestina) lalu menuju langit ketujuh dengan menggunakan Buraaq untuk mendapatkan syariat sholat.
Dalil Umum Peristiwa Isra’ Mi’raj di dalam Al-Qur’an
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra`: 1)
Juga dalam firman-Nya:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى
“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 1-18)
Bertemu Para Nabi Dan Disyariatkannya Sholat 5 Waktu
Bukhari dan Muslim meriwayatkannya dari Anas bin Malik dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang malam saat beliau di-Isra-kan, beliau bersabda, “Ketika aku sedang berada di Hijir dalam keadaan berbaring tiba-tiba ada yang datang menghampiriku sambil berkata dan aku mendengar ucapannya yang mengatakan, “Bedahlah bagian sini hingga bagian sini.” Aku bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, “Apa maksudnya?” Ia berkata, “Dari pangkal tenggorokan sampai bagian dadanya” dan aku mendengarkan ia berkata dari bagian dadanya hingga pusarnya, lalu ia pun mengeluarkan hatiku, kemudian dibawakan bejana emas yang berisi iman, maka hatiku pun dicucinya, kemudian dijahit dan dikembalikan pada tempatnya semula.
Kemudian aku dibawakan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil dari bighal (peranakan antara kuda dan keledai) dan lebih besar dari keledai. Jarud berkata kepadanya, “Itu adalah Buraq, wahai Abu Hamzah?” Anas berkata, “Ya, ia meletakkan langkah kakinya di penghujung pandangan matanya. Kemudian dibawa naik di atasnya.”
Jibril berangkat bersamanya hingga sampai di langit dunia, beliau pun minta dibukakan. Seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jawab Jibril, “Muhammad”. “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” Jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, beliau bertemu dengan Adam ‘alaihis salam. Jibril berkata, “Ini adalah kakekmu Adam.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit kedua. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. ‘Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.’ Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yahya dan Isa, anak dari bibinya. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah Yahya dan Isa.” Beliau pun mengucapkan salam kepadanya dan keduanya pun menjawab salam tersebut seraya berkata, “Selamat datang saudara dan Nabi yang saleh.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketiga. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Yusuf. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah Yusuf.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit keempat. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Idris. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah Idris.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit kelima. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah Harun ‘alaihis salam.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit keenam. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah Musa ‘alaihis salam.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Ketika beliau meninggalkannya, Musa ‘alaihis salam menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa yang menyebabkan kamu menangis?” Musa menjawab, “Aku menangis karena ada seorang anak yang diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.”
Kemudian beliau naik lagi menuju langit ketujuh. Jibril pun minta dibukakan seraya ditanya, “Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril”. “Siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah diutus kepada-Nya?” “Ya,” jawab Jibril. “Selamat datang sebaik-baiknya orang yang datang.” Kemudian pintu pun dibuka. Setelah melewati pintu tersebut, di sana beliau bertemu dengan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril memperkenalkannya, “Ini adalah kakekmu, Ibrahim ‘alaihis salam, ucapkanlah salam kepadanya.” Beliau pun mengucapkan salam dan salamnya pun dibalas, lalu berkata, “Selamat datang putra dan Nabi yang saleh.”
Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha yang di dalamnya terdapat pohon-pohon besar yang dedaunannya selebar telinga gajah. Seraya berkata, “Ini adalah Sidratul Muntaha yang memiliki empat aliran sungai, dua sungai batiniyah dan dua sungai lagi lahiriyah.”
Aku bertanya, “Apa yang dimaksud dua itu wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Dua sungai batiniyah berada di surga dan dua sungai lahiriyah adalah Nil dan Eufrat.” Kemudian diangkat di hadapanku Baitul Makmur. Kemudian disuguhkan kepadaku segelas khamar, segelas susu, dan segelas madu, aku pun memilih segelas susu. Jibril berkata, “Itu adalah fitrah yang kamu dan umatmu berada padanya.” Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh waktu sehari semalam, aku pun kembali, lalu aku bertemu Musa ‘alaihis salam.
Ia pun bertanya, “Apa yang diperintahkan kepadamu?” Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku diperintahkan shalat lima puluh waktu sehari semalam.” Musa berkata, “Umatmu tidak akan sanggup melakukan shalat lima puluh waktu sepanjang hari. Demi Allah, aku pernah mencobanya pada manusia sebelum kamu, aku pun pernah memaksakan Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah, mintalah keringanan bagi umatmu.”
Aku pun kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meminta keringanan) maka dikurangi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku kembali menemui Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dikurangi lagi sepuluh waktu. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka dikurangi sepuluh waktu lagi. Aku pun kembali dan bertemu Musa lagi, ia pun berkata seperti semula. Aku pun kembali menemui Allah, maka aku diperintahkan shalat sepuluh waktu sehari semalam. Aku kembali dan bertemu Musa lagi, lalu ia mengatakan mintalah keringanan lagi. Aku pun kembali, Musa pun bertanya, “Apa yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Aku diperintahkan shalat lima waktu setiap harinya.” Musa pun berkata, “Umatmu tidak akan sanggup shalat lima waktu, aku pernah mencobanya pada manusia sebelummu dan aku pernah memaksakannya kepada Bani Israil dengan serius. Kembalilah kepada Allah mintalah keringanan lagi.”
Muhammmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku telah meminta kepada Allah hingga aku merasa malu. Akan tetapi, aku ridha dan menerimanya.” Ketika aku meninggalkannya, terdengarlah sebuah seruan, “Aku telah tetapkan kewajibanku dan aku telah ringankan dari hamba-hamba-Ku.” (HR. Bukhari, no. 3887 dan Muslim, no. 264)
Hikmah Terjadinya Isra`
Apakah hikmah terjadinya Isra`, kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak Mi’raj langsung dari Mekkah padahal hal tersebut memungkinkan? Para ulama menyebutkan ada beberapa hikmah terjadinya peristiwa Isra`, yaitu:
- Perjalanan Isra’ di bumi dari Mekkah ke Baitul Maqdis lebih memperkuat hujjah bagi orang-orang musyrik. Jika beliau langsung Mi’raj ke langit, seandainya ditanya oleh orang-orang musyrik maka beliau tidak mempunyai alasan yang memperkuat kisah perjalanan yang beliau alami. Oleh karena itu ketika orang-orang musyrik datang dan bertanya kepada beliau, beliau menceritakan tentang kafilah yang beliau temui selama perjalanan Isra’. Tatkala kafilah tersebut pulang dan orang-orang musyrik bertanya kepada mereka, orang-orang musyrik baru mengetahui benarlah apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Untuk menampakkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis yang keduanya merupakan kiblat kaum muslimin. Tidaklah pengikut para nabi menghadapkan wajah mereka untuk beribadah kecuali ke Baitul Maqdis dan Makkah Al Mukarramah. Sekaligus ini menujukkan keutamaan beliau melihat kedua kiblat dalam satu malam.
- Untuk menampakkan keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan para nabi yang lainnya. Beliau berjumpa dengan mereka di Baitul Maqdis lalu beliau shalat mengimami mereka.
Faedah Kisah
Kisah yang agung ini sarat akan banyak faedah, di antaranya :
- Kisah Isra’ Mi’raj termasuk tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla.
- Peristiwa ini juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seluruh nabi dan rasul’alaihimus shalatu wa salaam
- Peristiwa yang agung ini menunjukkan keimanan para sahabat radhiyallahu’anhum. Mereka meyakini kebenaran berita tentang kisah ini, tidak sebagaimana perbuatan orang-orang kafir Quraisy.
- Isra` dan Mi’raj terjadi dengan jasad dan ruh beliau, dalam keadaan terjaga. Ini adalah pendapat jumhur (kebanyakan) ulama, muhadditsin, dan fuqaha, serta inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama Ahlus sunnah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)
- Nabi muhammad sangat memikirkan ummatnya sehingga beberapakali untuk meminta keringanan jumlah waktu sholat kepada Allah.
Semoga Bermanfaat, wallahu ‘alam.




