Penulis: Nokia Shanti Maryani, S.Sos
(Guru Kelas B1 – Sidrah TK Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug)
Suasana kelas pada awal pembelajaran sering kali belum berjalan tertib. Beberapa murid datang dan langsung berebut meletakkan tas digantungan, meletakan botol minum, dan perlengkapan belajar di sembarang tempat. Ada barang yang tertinggal di lantai, ada pula yang menumpuk di sudut kelas tanpa aturan yang jelas. Kondisi ini membuat ruang kelas tampak tidak rapi dan kurang nyaman. Situasi tersebut tidak jarang memicu keributan kecil antar murid dan mengganggu kondusifitas pembelajaran.
Dari kondisi tersebut, saya menyadari bahwa kerapihan kelas bukan sekadar persoalan estetika, melainkan bagian penting dari pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang baik merupakan salah satu fondasi keberhasilan proses belajar mengajar. Suasana kelas yang rapi dan nyaman tidak hanya mendukung konsentrasi belajar murid, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran karakter. Dari sinilah saya mulai menaruh perhatian pada satu hal sederhana namun bermakna, yaitu bagaimana murid dapat menyimpan barang pribadi maupun barang bersama dengan tertib tanpa harus selalu diingatkan oleh guru.
Pada praktiknya, kondisi kelas belum sepenuhnya mencerminkan suasana belajar yang kondusif. Ada beberapa tantangan diantaranya:
- Beberapa murid masih meletakkan barang di sembarang tempat, dan kebiasaan tersebut kemudian ditiru oleh teman lainnya.
- Yang lebih menjadi perhatian saya adalah sikap murid yang terlihat belum memiliki kepedulian terhadap kerapihan lingkungan belajarnya.
- Dan guru harus berulang kali mengingatkan, seolah-olah menjaga kerapihan kelas adalah tanggung jawab guru semata.
Situasi ini membuat saya merenung. Saya menyadari bahwa permasalahan utama bukan hanya tentang barang yang berserakan, melainkan tentang “belum tumbuhnya kesadaran dan rasa tanggung jawab dalam diri murid”. Jika pengelolaan kelas hanya mengandalkan perintah dan teguran, perubahan yang terjadi kemungkinan besar hanya bersifat sementara.
Saya mulai mencoba, langkah awal yang saya lakukan adalah:
- Mengajak murid berdiskusi, mengidentifikasi masalah bersama murid
Saya membuka ruang percakapan sederhana mengenai kebiasaan mereka dalam menyimpan barang. Dari diskusi tersebut, saya memahami bahwa sebagian besar murid tidak bermaksud membuat kelas menjadi berantakan. Mereka sering lupa, belum terbiasa, dan beberapa murid masih dalam proses beradaptasi dengan lingkungan kelas yang baru. Selain itu, murid belum sepenuhnya menyadari pentingnya menjaga kerapihan kelas demi kenyamanan bersama.
2. Membuat kesepakatan bersama

Berdasarkan hasil diskusi tersebut, saya mengajak murid untuk menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan ini tidak saya tentukan secara sepihak, melainkan dirumuskan bersama murid melalui proses penyadaran. Kami membahas konsekuensi logis jika barang-barang diletakkan sembarangan, seperti kelas menjadi tidak nyaman, ruang gerak terbatas, serta risiko barang hilang atau rusak. Sebaliknya, murid juga diajak memahami manfaat yang diperoleh apabila mereka konsisten menjaga kerapihan, yaitu terciptanya kelas yang rapi, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar bersama.
3. Demonstrasi menyimpan barang

Agar kesepakatan tersebut tidak hanya menjadi tulisan atau janji, saya melengkapinya dengan teladan yang konkret. Saya melakukan demonstrasi cara menyimpan barang dengan benar, misalnya saya memperagakan cara menyimpan tas di gantungan tas atau meletakkan perlengkapan belajar sesuai tempatnya. Melalui contoh nyata ini, murid memperoleh gambaran yang jelas mengenai perilaku yang diharapkan.
Tentu, proses pembiasaan ini tidak menunjukkan hasil secara instan. Selama satu bulan, saya mengamati perubahan yang terjadi secara bertahap di kelas B1. Pada tahap awal, murid masih sering lupa sehingga memerlukan pengingat dari guru. Budaya saling mengingatkan antar teman pun belum terlihat.
Pada tahap berikutnya, saya rutin melakukan refleksi saat sebelum jam kepulangan, hasilnya beberapa murid mulai menunjukkan kesadaran. Mereka mulai saling mengingatkan untuk menyimpan barang pada tempatnya. Meskipun belum dilakukan oleh seluruh murid, tanda-tanda perubahan positif mulai tampak.
Pada tahap selanjutnya, saya mencoba konsisten terus berdialog dan refleksi bersama murid terkait kesepakatan kelas yang sudah dibuat bersama, perubahan yang paling menggembirakan pun terlihat. Mayoritas murid sudah mulai terbiasa menyimpan barang pada tempatnya dengan kesadaran sendiri, tanpa harus diingatkan oleh guru maupun teman. Kelas menjadi lebih rapi dan tertata, sehingga suasana belajar terasa lebih nyaman.

Pengalaman ini menguatkan keyakinan saya bahwa kerapihan kelas dapat ditanamkan melalui kesepakatan, pembiasaan, dan teladan yang konsisten dari guru. Ketika murid dilibatkan secara aktif dalam menjaga lingkungan belajarnya, mereka tidak hanya belajar tentang kerapihan, tetapi juga menumbuhkan nilai kesadaran, kepedulian terhadap kenyamanan bersama, serta bermanfaat bagi kondusifitas pembelajaran. Perubahan perilaku yang muncul secara bertahap ini menunjukkan bahwa pembelajaran karakter akan lebih efektif ketika dilakukan melalui pengalaman nyata, bukan sekadar instruksi.







