Oleh Ustadzah Latifah, S.Pd

Momen memasuki lingkungan baru dan berbeda menjadi hal yang cukup menakutkan bagi beberapa anak, salah satunya saat pertama kali masuk ke sekolah baru. Sebagai orangtua, kita punya peran penting untuk mendukungnya agar bisa tetap percaya diri. Sebelumnya, kita perlu mengenal karakteristik mereka, karena setiap anak tidak bisa diperlakukan cara yang sama dalam meningkatkan kepercayaan dirinya. Mengatasi kepercayaan diri anak yang pendiam akan berbeda caranya dengan anak yang mudah bergaul.

Apa itu kepercayaan diri? Kepercayaan diri merupakan salah satu jenis perasaan dalam diri individu. Kondisi hati yang kukuh dan mantap bahwa yang dilakukannya benar, sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Sehingga dalam menjalankan kehidupan, ia mampu merencanakan dan melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin. Seseorang yang memiliki rasa kepercayaan diri dapat diartikan sebagai individu yang beriktikad melakukan sesuatu dan yakin memiliki kemampuan mewujudkannya.

Seorang anak yang memiliki rasa pecaya diri dalam dirinya tentunya akan berbeda dengan anak yang serba ragu dalam setiap tindakannya. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan mampu bekerja secara aktif dan dapat melaksanakan suatu hal dengan penuh tanggung jawab serta memiliki rencana terhadap masa depan. Percaya diri jadi modal dasar anak-anak yang harus disiapkan oleh orang tua dan guru sebagai bekal agar mereka bisa mengeksplorasi dan mengembangkan segala potensi dalam dirinya secara mandiri.

Meningkatkan rasa percaya diri murid dapat dilakukan melalui banyak kegiatan. Dan hal ini harus dilakukan secara terus menerus. Karena kepercayaan diri murid sebagian besar didapatkan berdasarkan pada pengalaman, dan secara bertahap diperkuat oleh keberhasilan di bidang sosial, emosional, dan intelektualnya. Murid yang aktif dan memiliki banyak pengalaman di masa sekolahnya akan semakin mudah dalam membangun rasa percaya dirinya. Jadi penting bagi guru untuk membangun suasana yang aman bagi murid bereksplorasi. Jangan segan untuk selalu memberikan umpan balik yang dapat murid kembangkan.

Berdasarkan pengalaman ajar yang saya jalani beberapa bulan di Al-Irsyad, anak-anak masih malu dan ragu saat saya ajak melakukan sesuatu di depan kelas. Saya melihat kepercayaan diri mereka belum muncul. Hanya ada beberapa anak yang mau, dan bergilir pada anak yang itu-itu saja. Akhirnya saya coba merancang strategi, “memancing” agar seluruh anak di kelas bisa berpartisipasi. Kegiatan ini kami sebut Tantangan Harian, bertujuan untuk melatih kepercayaan diri anak tanpa membebani mental dan pikiran karena dikemas dengan format permainan. Tantangan harian ini dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. Berikut tahapan yang biasa kami lakukan:

  1. Sediakan dua wadah: pertama berisi tantangan harian, kedua berisi daftar nama murid.
  2. Ketua kelas mengundi nama anak yang berkesempatan menerima tantangan
  3. Murid yang namanya muncul dipanggil untuk mengundi jenis tantangan yang akan dilakukan
  4. Saat murid yang bersangkutan melakukan tantangan, guru bersama murid lain memberi motivasi dan dorongan semangat
  5. Saat tantangan selesai dilakukan, guru dan murid lain memberi apresiasi
  6. Dan seterusnya 2-3 anak dalam sehari

Jenis tantangan yang disiapkan dalam wadah jangan sampai berupa hal-hal yang bisa memberatkan anak. Karena hal pokok yang menjadi tujuan kegiatan ini adalah kemauan anak untuk mencoba, pengalaman berhasil melakukan sesuatu dan menerima apresiasi atas keberhasilan tersebut. Berikut contoh tantangan yang bisa disiapkan:

  • Bernyanyi
  • Bercerita
  • Hafalan surat-surat pendek
  • Menjawab soal ringan, dan lain sebagainya.

Awalnya, saat pertama kali menerima tantangan, anak-anak merespon seperlunya saja dan masih malu-malu. Tapi, hari-hari berikutnya mereka lebih berani untuk bercerita atau menjawab pertanyaan dari Tantangan Harian. Pada akhirnya, saat pembelajaran reguler berlangsung dan saya mengajukan pertanyaan yang sebelumnya hanya direspon anak itu-itu saja, Alhamdulillah hampir semua anak antusias. Benar atau salah dari jawaban anak itu urusan belakangan, yang penting di sini anak-anak berani dan percaya diri dalam hal menjawab, bertanya ataupun bercerita di depan kelas.

Nah, teman-teman guru, begitulah cara sederhana yang saya coba untuk meningkatkan kepercayaan diri murid saat belajar di sekolah. Strategi semacam itu diharapkan dapat membuat anak tidak hanya melihat batasan-batasan belajar, tetapi lebih pada perkembangan. Kepercayaan diri anak adalah sikap dan ketrampilan yang harus diasah secara kotinu sehingga terus berkembang.

Penulis: Ustadzah Latifah, S.Pd (Wali Kelas II Utsman bin ‘Affan)