Belajar Perilaku Baik Lewat Dongeng dan Main Peran
Masa penyesuaian diri adalah fase krusial bagi pengembangan keterampilan sosial, emosional, dan kognitif anak usia dini. Adaptasi yang baik dapat membangun kepercayaan diri dan kemandirian pada anak. Namun, proses ini tidak selalu mudah. Anak-anak masuk ke lingkungan baru dan berinteraksi dengan kelompok baru, yaitu guru dan teman di kelas. Mereka akan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah dijumpai di rumah, seperti kesepakatan bersama. Juga konsep berbagi, bersabar, dan bergiliran. Oleh karena itu, jadi penuh tantangan baik bagi murid maupun bagi guru.

Tantangan yang dihadapi, misalnya, ketika guru sedang menjelaskan suatu hal, tiba-tiba ada murid yang memotong pembicaraan. Akibatnya, murid lain yang tadinya fokus mendengarkan menjadi ikut berbicara, bahkan ada yang mengobrol dengan teman di sebelahnya, sehingga suasana kelas menjadi tidak kondusif. Guru pun harus menjelaskan ulang apa yang sedang disampaikan. Dampak lainnya, saat pembelajaran berlangsung dalam suasana tidak kondusif, murid kehilangan fokus dan tidak memahami instruksi yang sudah diberikan.
Selain itu, terdapat murid yang enggan merapikan mainan setelah selesai bermain. Hal ini menyebabkan murid lain yang melihat perilaku temannya yang tidak ikut bekerja sama merapikan mainan menjadi alasan untuk tidak merapikan mainan juga. Selain enggan merapikan mainan, ada murid yang sering lupa untuk membuang sampah bekas makanannya, sehingga di antara murid terjadi saling menuduh karena tidak ada yang mau mengakui sampah bungkus snack milik siapa. Ketika anak-anak enggan merapikan mainan atau membuang sampah pada tempatnya, kelas menjadi berantakan, dan waktu pembelajaran berkurang karena harus merapikan ruangan terlebih dahulu. Perilaku ini menciptakan tantangan bagi guru untuk dapat mengelola kelas agar tetap teratur dan kondusif.

Menghadapi tantangan ini, saya memutuskan untuk menggunakan metode mendongeng dengan boneka jari. Dongeng dipilih karena dapat menyampaikan pesan moral secara menarik dan berkesan. Saya memilih cerita mengenai sebuah keluarga di dalam rumah yang harus bekerja sama dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang tuanya untuk mengatasi tantangan. Ketika guru mendongeng, murid diminta untuk fokus dan mengingat apa yang disampaikan oleh orang tua dalam dongeng tersebut. Ketika tokoh anak laki-laki tidak mau merapikan mainan setelah selesai bermain, para murid di kelas berkomentar, “Harusnya dibereskan dulu.” Ketika dalam bagian cerita tokoh anak perempuan dan anak laki-laki tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang tua mereka, murid-murid terlihat kesal dengan tokoh tersebut. Murid juga terlihat bersemangat memberitahu tokoh anak laki-laki dan perempuan ketika tersesat karena tidak mendengarkan perkataan orang tua mereka. Di akhir sesi mendongeng, guru melakukan refleksi dan meminta pendapat murid mengenai dongeng tersebut. Ketika salah satu murid berkomentar, “Kalau tidak dengerin, jadi tidak tahu ya, Ustadzah,” saya merasa bangga sekaligus lega. Itu adalah momen ketika saya menyadari bahwa pesan dari dongeng telah benar-benar tersampaikan.
Setelah menggunakan metode mendongeng untuk menyampaikan pesan moral, saya kemudian mencoba aktivitas bermain peran (role-playing) agar anak-anak bisa merasakan langsung bagaimana rasanya berada dalam situasi yang mereka hadapi di kelas. Pada suatu sesi main peran, saya meminta murid untuk bertukar posisi. Salah satu murid menjadi guru untuk menjelaskan sesuatu kepada temannya. Saat murid sedang menjelaskan, saya mengajak ngobrol murid lain yang sedang fokus mendengarkan, dan yang terjadi adalah murid yang berperan sebagai guru itu langsung terdiam dan tidak melanjutkan penjelasannya. Saya juga menanyakan kepada murid bagaimana perasaannya jika sedang memberitahu sesuatu tetapi tidak ada yang mendengarkan. Beberapa murid juga ikut menjawab, “Tidak enak, ustadzah.” Pada sesi lainnya, saya mengajak murid untuk bermain peran menjadi murid yang suka membuang sampah sembarangan dan tidak suka merapikan mainan, serta bermain peran menjadi murid yang suka mengingatkan temannya dengan cara yang baik. Murid sangat antusias pada kegiatan ini. Mereka bergantian, sebagian memainkan peran tertentu dan murid lain memperhatikan. Di akhir sesi, saya mengajak berefleksi, meminta pendapat murid mengenai peran yang dimainkan. Murid memahami bahwa perilaku tidak mendengarkan ketika ada yang berbicara, membiarkan sampah berserakan di lantai, dan tidak merapikan mainan merupakan perilaku yang tidak baik, serta semua murid diperbolehkan saling mengingatkan dengan cara yang baik.

Saya juga mengajak orang tua untuk menerapkan hal baik yang sudah dilakukan di sekolah agar dilakukan di rumah, seperti merapikan kembali mainan setelah selesai bermain. Saya mengajak berdiskusi orang tua apabila ada hal tidak sesuai dengan yang biasa dilakukan di kelas, dan meminta orang tua untuk ikut bekerja sama membimbing putra-putrinya di rumah.
Dengan pendekatan yang menumbuhkan empati, kami tidak hanya melihat perubahan perilaku di kelas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang akan berguna bagi murid sepanjang hidup mereka. Perjalanan ini membuktikan bahwa setiap tantangan yang muncul dapat diatasi dengan kesabaran serta percobaan hal-hal baru. Tantangan apa pun yang dihadapi bisa menjadi peluang untuk tumbuh bersama dan menjadi pembelajaran yang bermakna untuk semua.
Penulis: Afifah Nurul Inayah, S.Ag

Walikelas A3 – Darul Muqamah
TK Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug




