Mengelola diri menjadi bagian penting dalam tumbuhnya karakter anak. Belajar mengendalikan emosi, bertanggung jawab atas pilihan, mandiri, dan peduli kepada orang lain tentu tidak terjadi begitu saja. Anak perlu didampingi, dilatih, dan diberi contoh dalam kesehariannya.

Anak juga tidak hanya belajar di sekolah. Di rumah, mereka belajar dari kebiasaan dan teladan yang dilihat setiap hari. Karena itu, sinergi sekolah dan orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh anak.

Sebagai bentuk sinergi tersebut, Al-Irsyad Ciledug menghadirkan Founder Sakinah Parenting Education, Ade Ramansyah, SE.I., M.Pd., dalam kegiatan Parenting Fase B bersama orang tua siswa kelas 3 dan 4 SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug pada Sabtu, 12 September 2026.

Dalam kegiatan ini, orang tua diajak melihat kembali perannya dalam menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, dan kepedulian anak.

Jangan Hanya Membantu, Latih Anak Agar Mampu

Karena sayang, orang tua sering mengambil alih pekerjaan anak agar semuanya cepat selesai. Padahal, terlalu sering membantu bisa membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar.

Maka, pola asuh perlu perlahan bergeser dari HELP → TRAIN. Bukan selalu menyelesaikan, tetapi mendampingi anak untuk mencoba.

Daripada berkata, “Sini, Bunda saja,” kita bisa mengatakan, “Coba kamu lakukan dulu, kalau bingung nanti Bunda bantu.”

Yang penting bukan pekerjaan cepat selesai, tetapi anak semakin mampu melakukannya sendiri.

Kemandirian Dimulai dari Hal Sederhana

Kemandirian dapat dilatih melalui 3M: Memberi Kesempatan, Memberi Waktu, dan Memberi Kepercayaan.

Berikan anak kesempatan untuk mencoba, waktu untuk belajar, dan kepercayaan bahwa ia mampu. Jangan takut jika hasilnya belum sempurna, karena dari situlah anak belajar.

Kemandirian juga bertahap: melihat, mengamati, melakukan bersama, mencoba dengan pengawasan, hingga akhirnya mampu sendiri.

Belajar Bertanggung Jawab dan Peduli

Anak juga perlu belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ketika melakukan kesalahan, tidak selalu harus langsung diselamatkan. Berikan konsekuensi yang wajar, aman, dan masuk akal, agar anak belajar menyadari dan memperbaiki kesalahannya.

Kepedulian pun perlu dilatih. Orang tua dapat mengajak anak bertanya:

“Apa yang kamu lihat?”
“Menurutmu, apa yang sedang dia rasakan?”
“Apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu?”

Dari sini anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang “aku”, tetapi juga tentang “kita”.

Beri Ruang untuk Belajar

Kadang kita ingin anak mandiri, tetapi kita sendiri yang terlalu cepat membantu. Kita ingin anak bertanggung jawab, tetapi belum banyak memberi mereka kesempatan.

Sering kali bukan karena anak tidak bisa, tetapi karena kita belum memberi ruang untuk belajar.

Mulailah dari hal kecil dengan pola Lihat – Lepas – Latih – Evaluasi. Lihat apa yang sudah bisa dilakukan anak, kurangi bantuan secara perlahan, latih secara konsisten, lalu evaluasi bersama.

Saat anak menolak atau gagal, tidak perlu langsung emosi. Pahami perasaannya, tetap beri batas, lalu berikan pilihan. Ketika gagal, apresiasi usahanya dan ajak mencari cara agar bisa lebih baik.

Berani mencoba → Berani salah → Mau belajar → Mampu memperbaiki.

Mulai dari Rumah

Tidak perlu banyak tugas. Satu amanah yang konsisten lebih baik daripada banyak tugas yang hanya bertahan sebentar.

Merapikan tempat tidur, menyiapkan tas sekolah, atau membereskan piring sendiri bisa menjadi latihan sederhana untuk menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang menyiapkan anak untuk selalu bergantung kepada kita. Kita sedang menyiapkan mereka agar mampu berdiri sendiri, bertanggung jawab, peduli kepada orang lain, dan tetap berjalan bersama Allah.

Sinergi yang Ingin Terus Dilanjutkan

Alhamdulillah, kegiatan parenting ini mendapat respons positif dari para orang tua. Antusiasme yang muncul menunjukkan bahwa ruang belajar dan berbagi seperti ini dibutuhkan untuk terus mendampingi tumbuh kembang anak.

Bahkan, para orang tua berharap kegiatan parenting dapat dihadirkan secara rutin satu bulan sekali, sehingga komunikasi, berbagi pengalaman, dan sinergi antara sekolah dan keluarga dapat terus terjaga.

Sebab, mendampingi anak bukan pekerjaan sehari dua hari. Kita semua sedang belajar, bertumbuh, dan berjalan bersama.

Anak belajar mengelola diri. Kita semua punya peran.

Semoga ikhtiar kecil ini menjadi langkah bersama untuk menumbuhkan anak-anak yang mandiri, bertanggung jawab, peduli, berakhlak, dan bermanfaat.