Pada Sabtu, 2 November 2024, Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug berhasil menggelar kegiatan Parenting Fase Fondasi di Gedung II SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug. Acara ini dirancang khusus bagi para wali murid dari unit TK dan TAUD dengan tema Penanaman Karakter Islami pada Anak Usia Dini.

Ustadz Muhammad Halim, S.Pd., M.M., Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah, hadir sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut.

Acara parenting ini dimulai dengan pembacaan Surat At-Tiin oleh ananda Isbil dari kelas B1 TK Al-Irsyad Ciledug, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Al-Irsyad.

Dalam sesi penyampaian materi, Ustadz Halim juga menegaskan pentingnya pola Asuh dan pola didik yang Sejalan. Setiap anak tumbuh dengan karakter dan keunikan masing-masing, yang sangat dipengaruhi oleh pola asuh serta pola didik yang diterapkan oleh orang tua dan pendidik. Pendidikan karakter Islami sejak usia dini menjadi fondasi penting bagi anak untuk masa depannya, sebab akhlak dan nilai-nilai yang tertanam kuat akan membimbing anak dalam setiap aspek kehidupan mereka kelak.

 

Dalam sabda Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Sallam menyebutkan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, atau dalam keadaan baik dan Islami:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkanbahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan pentingnya peran orang tua dalam mengarahkan karakter anak. Anak yang berada dalam fase perkembangan usia dini memiliki masa yang tak akan terulang. Pada masa ini, kerjasama yang baik antara guru dan orang tua dalam pola asuh maupun pola didik menjadi kunci keberhasilan dalam membentuk karakter Islami yang kuat.

Dalam menerapkan pendidikan karakter Islami, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua dan pendidik diantaranya:

  1. Mengenalkan Bunyi-Bunyian yang Menyenangkan

Anak usia dini sangat sensitif terhadap bunyi. Mengenalkan bunyi-bunyian positif, seperti murottal atau suara alam, dapat membantu membangun rasa tenang dan mendukung perkembangan emosional mereka.

2. Fokus pada Perkembangan Diri Anak

Di usia dini, penting untuk memprioritaskan perkembangan diri anak ketimbang kemampuan membaca dan menulis. Perkembangan fisik, emosional, dan sosial harus berjalan dengan baik sebelum anak diarahkan pada keterampilan akademik.

3. Mempersiapkan Motorik Halus dan Kasar

Mengembangkan motorik halus dan kasar anak adalah langkah penting sebelum masuk ke tahap perkembangan lainnya. Bermain dan aktivitas fisik yang menyenangkan akan mendukung kemampuan motorik mereka sekaligus membangun karakter percaya diri.

4. Penyampaian Karakter secara Positif

Nilai-nilai karakter disampaikan melalui sikap yang positif, contohnya dengan memberikan pujian atas perilaku baik atau menunjukkan rasa syukur. Pendekatan positif membantu anak memahami makna kebaikan tanpa rasa takut.

5. Membangkitkan Kemampuan Berpikir Kritis

Menanamkan nilai-nilai Islami dapat dilakukan dengan merangsang kemampuan berpikir kritis anak. Anak yang dibiasakan bertanya akan lebih terbuka terhadap berbagai nilai dan pemahaman.

Konsep Penanaman Karakter Menurut Kochaska dan Blasi

Dalam pendidikan karakter, teori yang diajukan oleh Kochaska dan Blasi dapat digunakan sebagai pedoman:

  1. Knowing the Good: Mengajarkan kepada anak mengenai makna kebaikan.
  2. Reasoning the Good: Mengajarkan alasan atau manfaat melakukan kebaikan.
  3. Feeling the Good: Menanamkan perasaan positif terhadap kebaikan.
  4. Acting the Good: Membimbing anak untuk berperilaku baik secara konsisten.

Pentingnya karakter Islami ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Sallam:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Akhlak yang mulia bukan hanya perlu diajarkan, tetapi juga dicontohkan melalui tindakan nyata oleh orang tua dan pendidik.

Penanaman karakter yang efektif tidak bisa dilakukan dalam suasana yang penuh ketakutan. Berdasarkan ilmu psikologi, otak manusia terdiri dari tiga bagian:

  1. New Brain: Bagian otak untuk berpikir logis dan analitis.
  2. Emotional Brain: Bagian otak yang mengatur emosi.
  3. Reptilian Brain: Bagian otak yang merespon dengan cara menyerang atau bertahan.

Untuk menumbuhkan karakter Islami, ketiga bagian otak ini harus berfungsi seimbang, dan anak sebaiknya dididik dalam suasana yang tenang dan mendukung.

Pentingnya Ketenangan Orang Tua dalam Pendidikan Karakter

Orang tua yang tenang akan menghasilkan anak yang lebih tenang dan mampu menyerap nilai-nilai karakter Islami dengan baik. Ketenangan orang tua dalam pola asuh memberikan contoh nyata bagi anak tentang bagaimana mengelola emosi dan menunjukkan akhlak yang baik.

yang terakhir ustadz halim menyampaikan Dengan pola asuh yang seimbang dan pola didik yang tepat, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi berkarakter Islami yang kuat dan memiliki nilai-nilai luhur sebagai bekal kehidupan di masa depan.

Alhamdulillah Antusiasme para orang tua tampak sangat tinggi. Banyak dari mereka yang mengajukan pertanyaan dan memberikan kesan positif seusai acara.

Bunda Erni Rahmawati, wali murid dari kelas B2, menyampaikan rasa syukurnya, “Alhamdulillah, mengikuti parenting ini memberi saya banyak manfaat untuk mendidik anak agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Semoga ke depannya Al-Irsyad terus melaksanakan program parenting yang berkesinambungan.”

Senada dengan Bunda Erni, Bunda Alta, wali murid kelas A2, juga memberikan tanggapan positif. “Saya merasakan banyak hal positif dari kegiatan parenting ini, terutama tips dan trik yang sesuai dengan realita menghadapi anak usia dini. Harapan saya, semoga Al-Irsyad selalu konsisten mengadakan parenting dan menghadirkan narasumber yang inspiratif.”

Kegiatan parenting tahunan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara orang tua dan pihak lembaga, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendidik dan membentuk karakter putra-putri tercinta. Dengan adanya kolaborasi yang baik, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia serta siap menghadapi masa depan.