Oleh: Agni Hidayati Raki Putri, S.Pd, Gr.
Play time merupakan jadwal favorit anak-anak di kelas saya. Waktu ini selalu dinantikan sejak mereka melangkah masuk ke ruang kelas. Melalui play time, anak-anak memiliki ruang untuk berekspresi dan berimajinasi secara bebas, sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-temannya.
Bagi saya, play time bukan sekadar waktu bermain. Lebih dari itu, play time adalah momen berharga dan kesempatan emas untuk menumbuhkan perilaku anak yang beriman, seperti bersikap baik, menerapkan adab, serta mensyukuri nikmat yang diberikan Allaah. Inilah alasan saya menyebut play time sebagai waktu untuk bermain dan beriman.
Namun, dalam pelaksanaannya, saya mengamati adanya dinamika yang menarik sekaligus menjadi tantangan. Saat play time berlangsung, anak-anak di kelas menunjukkan dua karakteristik utama, yaitu anak yang cenderung pasif dan anak yang sangat aktif. Anak-anak yang pasif tampak ragu-ragu dan kurang percaya diri untuk mengambil mainan atau meminta giliran. Mereka sering memilih mengamati dari kejauhan tanpa berani menentukan pilihan. Sebaliknya, anak-anak yang aktif cenderung mendominasi permainan. Mereka dengan sigap mengambil mainan yang diinginkan, memimpin permainan, dan terkadang tanpa disadari menguasai ruang bermain.
Perbedaan karakter ini sering menimbulkan ketimpangan dalam pemenuhan hak dan kewajiban; yang seharusnya dijalani bersama. Ada anak yang tidak kebagian mainan, sementara yang lain berebut mainan favorit hingga menangis. Kondisi kelas pun menjadi kurang kondusif: mainan berserakan, beberapa anak berlarian tanpa arah, dan sebagian lainnya kehilangan minat untuk tetap berada di area bermain. Situasi ini membuat saya merenung bahwa play time yang seharusnya menjadi waktu berharga ternyata belum sepenuhnya mencerminkan nilai “bermain dan beriman” yang ingin saya tanamkan.
Saya kemudian menyadari bahwa persoalan ini bukan semata-mata tentang berebut mainan atau anak-anak yang berlarian di kelas. Lebih dari itu, ini berkaitan dengan proses anak dalam memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, serta belajar menjalankan adab dan tanggung jawab melalui kegiatan bermain. Anak yang pasif membutuhkan dorongan agar berani tampil, merasa dihargai, dan yakin bahwa dirinya memiliki hak yang sama. Sementara itu, anak yang aktif perlu belajar mengendalikan diri, berbagi, dan memahami bahwa ruang bermain adalah milik bersama.
Di sinilah peran guru; bukan untuk mengatur secara berlebihan, melainkan untuk mengarahkan dan membimbing agar play time menjadi pengalaman yang edukatif, emosional, sekaligus spiritual. Setiap konflik dan setiap tawa yang muncul dalam kegiatan bermain merupakan momen pembelajaran yang bermakna.
Saya berharap play time tidak hanya menjadi sesi bermain bebas, tetapi juga sarana bagi anak-anak untuk belajar nilai-nilai keimanan: seperti berbagi sebagai bentuk adab kepada sesama, menjaga mainan sebagai wujud amanah, bersyukur atas fasilitas yang diberikan, serta menutup kegiatan dengan merapikan mainan sebagai bentuk tanggung jawab yang dilandasi nilai kebaikan.
Berangkat dari kesadaran tersebut, saya mulai menyusun beberapa strategi agar play time kembali pada tujuan terbaiknya, yaitu menjadi ruang yang menyeimbangkan kebebasan dan kedisiplinan, keceriaan dan ketertiban, serta permainan dan nilai keimanan. Adapun strategi yang saya terapkan sebagai berikut.
- Membuat Kesepakatan Bermain

Sebelum play time dimulai, saya mengajak anak-anak menyusun kesepakatan bermain yang merupakan hasil keputusan bersama. Kesepakatan ini memuat nilai-nilai keimanan, seperti bersabar menunggu giliran memilih mainan, mengambil mainan secukupnya agar teman lain juga kebagian, menjaga mainan agar tidak rusak karena merupakan amanah dari Allah, mensyukuri mainan yang diperoleh tanpa merebut milik teman, berbicara dengan suara pelan dan tidak berlarian di kelas, serta mengantre saat mengembalikan mainan ke tempat semula.
2. Memberi Kesempatan Setiap Anak untuk Memilih Mainan

Strategi ini bertujuan mendorong anak-anak yang pasif agar berani tampil dan merasa “diakui” haknya untuk memilih mainan. Selain itu, strategi ini membantu anak-anak yang cenderung mendominasi agar mampu mengendalikan diri, mengambil mainan sesuai kebutuhan, serta menyadari bahwa mainan di kelas merupakan milik bersama. Dengan demikian, empati terhadap hak teman lain pun dapat tumbuh.
3. Menata Area Bermain

Anak dilibatatkan untuk menyepakati spot area bermain sesuai dengan jenis mainan. Anak-anak yang memilih lego atau balok bermain di area karpet, sedangkan anak-anak yang bermain playdough bermain di lantai secara berkelompok. Penataan ini membantu anak-anak bermain dengan lebih tertib dan bergantian.
4. Melakukan Refleksi dan Penguatan Positif

Setelah bermain, anak-anak dibiasakan mengantre untuk mengembalikan mainan ke tempatnya. Di akhir kegiatan, mereka diajak merefleksikan pengalaman bermain pada hari tersebut. Saya memberikan penguatan positif kepada anak-anak yang berhasil menerapkan kesepakatan bermain, misalnya dengan ucapan,
“Terima kasih, shalih dan shalihah, hari ini sudah bersabar dan tertib dalam bermain,”
“Terima kasih sudah menjaga mainan yang dititipkan Allah.”
“Siapa yang hari ini berbagi mainan dengan temannya?”
Momen tersebut membantu anak-anak merefleksikan diri dan meningkatkan motivasi untuk bersikap lebih baik.
Perubahan ini secara perlahan menunjukkan hasil yang positif. Anak-anak yang pasif mulai berani memilih mainan dan mengungkapkan keinginannya. Anak-anak yang aktif belajar menunggu giliran dan tidak lagi mengambil mainan seenaknya. Suasana kelas menjadi lebih tertib dan taeratur, mainan tidak lagi berserakan, anak – anak lebih mandiri mengelola diri, serta konflik berebut mainan semakin berkurang.
Lebih dari itu, saya melihat tumbuhnya karakter positif dalam diri anak-anak, seperti kesadaran menjaga amanah, keinginan untuk berbagi, keberanian menyampaikan pendapat, serta kebiasaan merapikan mainan tanpa diminta. Inilah nilai “beriman” yang saya harapkan tumbuh secara alami melalui kegiatan bermain. Play time yang semula penuh kegaduhan kini berubah menjadi ruang belajar yang hidup, ceria, dan sarat makna.




