Menumbuhkan anak yang beradab, mandiri, dan mampu mengambil keputusan dengan bijak tentu bukan proses yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kerja sama antara sekolah dan keluarga agar nilai-nilai yang diajarkan kepada anak dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari kesehariannya.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Parenting Fase C SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug yang dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Gedung II SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug.
Kegiatan ini dihadiri oleh asatidz dan walimurid Fase C, khususnya yang mendampingi murid kelas 5 dan 6. Dengan mengangkat tema “Beradab dalam Sikap, Bijak dalam Bertindak”, kegiatan menghadirkan Founder Sakinah Parenting Education, Ade Ramansyah, SE.I., M.Pd. sebagai narasumber.

Parenting ini menjadi kesempatan bagi sekolah dan orang tua untuk duduk bersama, berbagi pemahaman, sekaligus melihat kembali bagaimana pendampingan anak dapat dilakukan secara selaras antara rumah dan sekolah.
Memahami Anak Fase C yang Sedang Bertumbuh
Murid Fase C, terutama kelas 5 dan 6, sedang berada pada tahap perkembangan yang semakin membutuhkan kepercayaan sekaligus pendampingan. Mereka mulai belajar lebih mandiri, mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan, mengatur waktu, serta menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan sekitar.
Dalam keseharian di sekolah, masih ada beberapa hal yang perlu terus dikuatkan. Pada murid kelas 5, misalnya, pembiasaan adab dalam berbicara, memilih perkataan yang tepat, menjaga sikap, serta memiliki inisiatif dalam menyelesaikan tanggung jawab masih perlu terus dilatih.
Sementara itu, bagi murid kelas 6, penguatan juga dibutuhkan dalam hal kedisiplinan belajar dan beribadah, kemandirian, pengelolaan waktu, hingga penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Hal-hal tersebut bukan berarti anak tidak mampu, tetapi menjadi bagian dari proses mereka untuk terus belajar dan bertumbuh. Karena itu, anak membutuhkan orang dewasa di sekitarnya yang memberikan arahan, contoh, dan pendampingan secara konsisten.
Menumbuhkan Adab Dimulai dari Keteladanan
Dalam penyampaiannya, Ade Ramansyah mengingatkan bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang membuat anak pintar atau berprestasi. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses menumbuhkan pribadi yang beradab, bijak, bertanggung jawab, dan mampu melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat.
Rumah menjadi tempat pertama anak belajar. Apa yang dilakukan orang tua sehari-hari sering kali menjadi pelajaran yang lebih kuat daripada nasihat yang disampaikan.
Anak belajar dari cara orang tua berbicara, menyelesaikan masalah, meminta maaf, menghargai orang lain, menggunakan gawai, hingga menjalankan tanggung jawab. Karena itu, kedekatan dan keteladanan orang tua memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Di sisi lain, sekolah juga memiliki peran untuk memberikan ilmu, membangun kebiasaan baik, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter anak.
Karena itu, pendidikan anak tidak bisa berjalan sendiri. Sekolah, rumah, lingkungan, dan anak perlu saling mendukung agar pesan yang diterima anak tetap selaras.
Adab Bukan Sekadar Diajarkan, tetapi Dilatih
Dalam kegiatan parenting ini, orang tua juga diajak untuk melihat kembali bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari nilai akademik atau prestasi yang diraih.
Anak adalah amanah yang perlu didampingi agar tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat. Ilmu yang dimiliki perlu berjalan bersama iman dan diwujudkan melalui adab.
Adab pun tidak cukup hanya dijelaskan kepada anak. Ia perlu dilatih melalui hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali, seperti berbicara dengan baik, menghormati guru dan orang tua, bertanggung jawab terhadap tugas, menjaga sikap kepada teman, serta mampu mengakui dan memperbaiki kesalahan.
Kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dilakukan inilah yang perlahan dapat membentuk karakter anak.
Bijak Menggunakan Teknologi: “Pikir, Baru Klik”
Salah satu hal yang tidak kalah penting dalam mendampingi anak saat ini adalah penggunaan teknologi.
Anak tumbuh di tengah lingkungan digital yang memberikan banyak kemudahan sekaligus tantangan. Karena itu, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhkan sepenuhnya, tetapi perlu dikenalkan dengan pendampingan dan tanggung jawab.
Anak perlu dibiasakan untuk tidak terburu-buru ketika melihat, menerima, atau membagikan sesuatu di dunia maya.
Sederhana saja: “Pikir, baru klik.”
Anak dapat belajar bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang saya lihat? Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apa dampaknya jika saya membagikannya?
Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan dapat membantu anak menjadi pengguna teknologi yang lebih sadar, teliti, dan bertanggung jawab.
Saat Anak Salah, Dampingi untuk Belajar
Dalam perjalanan tumbuhnya, anak tentu tidak selalu benar. Ada kalanya mereka melakukan kesalahan, mengambil keputusan yang kurang tepat, atau menunjukkan sikap yang belum sesuai harapan.
Pada situasi seperti ini, orang tua diajak untuk tidak terburu-buru memberikan label kepada anak. Lebih baik melihat perilakunya, mendengarkan ceritanya, memahami penyebabnya, kemudian membantu anak menemukan cara untuk memperbaikinya.
Dengan begitu, kesalahan tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dimarahi atau dihukum, tetapi juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar memahami konsekuensi, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Tumbuh Bersama, Menjadi Lebih Baik
Parenting Fase C ini menjadi pengingat bahwa mendampingi anak bukanlah tugas sekolah saja atau orang tua saja. Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
Sekolah memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan berkembang, sementara keluarga menjadi tempat utama bagi anak untuk melihat, merasakan, dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan semangat pendidikan di SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug, proses tersebut diharapkan dapat terus menumbuhkan anak yang sadar terhadap dirinya dan tanggung jawabnya, mampu berkolaborasi dengan orang lain, serta memberikan manfaat melalui karya dan perilakunya.
Pada akhirnya, anak tidak hanya diharapkan menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi, tetapi juga beradab dalam sikap, bijak dalam bertindak, mandiri dalam menjalankan tanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak tahu mana yang benar. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses menumbuhkan kesadaran agar anak mampu memilih dan melakukan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.




