“Ayah, bayi itu berasal dari mana?”
“Kenapa tubuh anak laki-laki dan perempuan berbeda?”
“Kenapa aku tidak boleh menyentuh bagian tubuh tertentu?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini bisa muncul kapan saja dalam proses tumbuh kembang anak. Di balik rasa ingin tahu tersebut, ada proses penting ketika anak mulai mengenal tubuh, memahami dirinya, mengenali emosi, serta belajar berinteraksi dengan lingkungan.

Pendidikan seksualitas pada anak bukan sekadar membahas perbedaan laki-laki dan perempuan. Anak juga perlu belajar mengenal tubuhnya, menjaga privasi, memahami batasan, mengenali sentuhan yang aman dan tidak aman, menghargai diri sendiri maupun orang lain, serta berani mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman.

Lalu, ketika anak mulai bertanya, bagaimana sebaiknya orang tua merespons?

Bukan dengan menghindar atau menganggap anak masih terlalu kecil untuk mengetahui jawabannya, tetapi dengan menjadikan pertanyaan tersebut sebagai kesempatan untuk membangun komunikasi yang aman, terbuka, dan sesuai dengan usia anak.

Parenting Fase A: Belajar Mendampingi Anak

Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan Parenting Fase A SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug dengan tema “Pendidikan Seksualitas di Rumah”.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, di Gedung II SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug ini menghadirkan Desi Niawati, M.Psi., Psikolog, salah satu Psikolog Klinis di Klinik Anak Mitra Cirebon, sebagai narasumber.

Melalui kegiatan ini, orang tua diajak memahami bahwa pendidikan seksualitas merupakan bagian dari proses mendampingi tumbuh kembang anak. Pendidikan ini tidak harus dimulai dengan pembicaraan yang rumit, tetapi dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dimulai dari Mengenal Tubuh dan Diri

Pendidikan seksualitas merupakan proses mengenalkan anak pada tubuh, kesehatan, fungsi organ reproduksi, emosi, hubungan sosial, serta nilai dan moral yang berkaitan dengan seksualitas.

Pemahaman mengenai perkembangan anak menjadi salah satu dasar penting dalam memberikan pendampingan. Setiap usia memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda sehingga materi perlu disampaikan secara bertahap dan sesuai tahap perkembangan anak.

Pada usia 0–2 tahun, anak dapat mulai dikenalkan dengan nama bagian tubuh secara benar, termasuk bagian tubuh pribadi, sekaligus belajar bahwa tubuh perlu dirawat dan dihargai.

Memasuki usia 3–5 tahun, anak mulai dapat dikenalkan pada perbedaan laki-laki dan perempuan, bagian tubuh pribadi, privasi, serta aturan mengenai sentuhan yang aman dan tidak aman.

Pada usia 6–8 tahun, pemahaman tersebut dapat diperkuat dengan mengajarkan anak tentang batas tubuh, kemampuan mengatakan “tidak”, menjauh dari situasi yang membuat tidak nyaman, serta melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.

Sementara pada usia 9–12 tahun, pembahasan mulai dapat diarahkan pada pubertas, perubahan fisik dan emosional, kebersihan diri, menstruasi, mimpi basah, serta pengenalan dasar mengenai reproduksi. Ketika memasuki masa remaja, pembahasan dapat berkembang pada relasi sehat, persetujuan, tanggung jawab, risiko kehamilan dan infeksi menular seksual, hingga keamanan di dunia digital.

Ketika Anak Bertanya, Dengarkan Terlebih Dahulu

Salah satu hal penting dalam pendidikan seksualitas adalah bagaimana orang tua merespons rasa ingin tahu anak.

Ketika anak bertanya tentang tubuh atau seksualitas, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan atau memarahinya. Dengarkan terlebih dahulu, pahami apa yang ingin diketahui, dan bila diperlukan tanyakan dari mana anak mendapatkan informasi tersebut.

Jawaban pun tidak harus panjang. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas, tenang, dan sesuai usia. Hindari menakut-nakuti, tetapi tetap berikan batasan yang tegas mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Anak juga perlu memiliki strategi ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Mereka perlu tahu bahwa mereka boleh mengatakan “tidak”, menjauh dari situasi tersebut, dan mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.

Mengenal Emosi Juga Bagian dari Pendidikan Seksualitas

Pendidikan seksualitas tidak dapat dipisahkan dari kemampuan anak mengenali dan mengelola emosi.

Anak perlu belajar memahami apa yang mereka rasakan, bagaimana merespons emosi, serta bagaimana menyampaikan perasaan dengan tepat. Kemampuan ini membantu anak mengenali dirinya, memahami lingkungan, mengatur perilaku, dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Dalam konteks pendidikan seksualitas, kemampuan mengenali emosi juga membantu anak memahami rasa malu, takut, tidak nyaman, atau perasaan lainnya tanpa harus merasa bersalah karena mengalaminya.

Karena itu, kedekatan dan komunikasi antara orang tua dan anak menjadi hal yang penting. Rumah diharapkan menjadi tempat pertama bagi anak untuk memperoleh informasi yang benar sekaligus tempat yang aman untuk bertanya dan bercerita.

Pendidikan Seksualitas Tidak Harus Menunggu Anak Besar

Pendidikan seksualitas bukanlah satu percakapan yang selesai dalam sekali waktu. Ia merupakan proses yang tumbuh bersama perkembangan anak.

Orang tua tidak harus menjelaskan semuanya sekaligus. Yang terpenting adalah memberikan informasi yang benar dan sesuai usia, membangun batasan yang jelas, serta menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bertanya.

Dengan pendampingan yang tepat, anak belajar mengenal tubuhnya, menjaga privasinya, memahami emosinya, menghargai dirinya dan orang lain, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.

Sebab ketika anak mulai bertanya, yang mereka butuhkan bukan sekadar jawaban, tetapi orang tua yang siap menjadi tempat bertanya, tempat bercerita, dan tempat merasa aman.

Melalui kegiatan Parenting Fase A ini, SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah Ciledug terus mendorong kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi setiap tahap tumbuh kembang anak—agar anak tidak hanya tumbuh dengan pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan menjaga diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan di sekitarnya.